Ini adalah tulisan pertama hasil kolaborasi gue dengan teman gue yang berasal dari Padang. Hasil dari kami yang ditinggalkan. Lo bisa lihat hasil tulisan karya teman gue di sini
Enjoy!
Pada pertemuan terakhir kita, aku sadar bahwa matamu adalah petunjuk. Ciuman terakhir kita pun adalah petunjuk. Kau selalu menuliskan kata cinta di setiap sudut ruang hatiku, dan berakhir dengan aku yang berupaya menghapus cinta itu. Kau putuskan untuk pergi. Kau hanya bercanda tentang terus mencintaiku. Di matamu ada dirinya. Begitu pula di hatimu, hanya ada dirinya, bukan aku.
Tapi tetap saja; deru suara tawamu, hangat canda dan tawamu, riuh cerita masa kecilmu kian mendengung di relung batinku. Setiap ku pejamkan mata, kau sempurna tersenyum, lalu kau menghilang, yang tersisa hanya luka masa lalu dan kenangan kita di hari yang singkat itu. Aku hanya rindu.
Dengan segala luka karena melepaskanmu, aku mencoba untuk tertawa seperti biasanya. Aku selalu mencoba, tetapi itu berakhir dengan tangisan. Aku menangisimu sepanjang malam, aku menjadi gila karena aku merindukan tawamu. Aku selalu berteriak aku ingin melupakanmu, tetapi itu tidak bekerja sama sekali.
Ketika hari-hariku mulai berat, aku merindukan hangat suaramu di ujung telepon, memeluk erat keresahan dan lelahku. Semenjak kau memilih pergi, tidak satu hari pun ku jalani tanpa kau di benakku dan tanpa bayangmu di tiap malamku tidak bisa tidur. Alunan lagu yang sering kita putarkan mendengung di telingaku. Kau tau, bukan main sakitnya.
Aku terus merasa bahwa hidup tanpamu adalah sebuah mimpi buruk belaka. Aku ingin tertidur dan bangun melihat wajahmu di sebelahku. Aku ingin terus tersenyum, mempercayai bahwa kau akan kembali. Bahwa kita akan menapaki jalan hidup bersama. Tapi aku sendirian sekarang.
Kau melengkapiku dan ketika kau pergi, semua yang terbaik dariku ikut kau angkut. Hari-hari kian sepi dan berat tanpa mu bersama ku. Aku membangun lagi diri ku sendiri keping demi keping. Harap ku masih pada mu. Rindu ku tidak pernah salah alamat.
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku, saat aku merindukanmu. Rindu yang sampai kapanpun tidak pernah berbalas. Rindu yang terkekang karena kamu memilihnya, aku tak berhak untuk menyampaikannya. Aku tak berhak untuk merusak kebahagiaanmu.
Hanya dua hal yang dapat kulakukan untuk selalu bersamamu—untuk selalu mendekapmu. Dengan aku menulis dan dengan doa di setiap ujung sujudku. Biarlah aku belajar mendewasa dan biarlah rindu itu tetap ada, karna di dalam ku masih selalu ada dirimu. Selalu.
—UWxSI
Enjoy!
Pada pertemuan terakhir kita, aku sadar bahwa matamu adalah petunjuk. Ciuman terakhir kita pun adalah petunjuk. Kau selalu menuliskan kata cinta di setiap sudut ruang hatiku, dan berakhir dengan aku yang berupaya menghapus cinta itu. Kau putuskan untuk pergi. Kau hanya bercanda tentang terus mencintaiku. Di matamu ada dirinya. Begitu pula di hatimu, hanya ada dirinya, bukan aku.
Tapi tetap saja; deru suara tawamu, hangat canda dan tawamu, riuh cerita masa kecilmu kian mendengung di relung batinku. Setiap ku pejamkan mata, kau sempurna tersenyum, lalu kau menghilang, yang tersisa hanya luka masa lalu dan kenangan kita di hari yang singkat itu. Aku hanya rindu.
Dengan segala luka karena melepaskanmu, aku mencoba untuk tertawa seperti biasanya. Aku selalu mencoba, tetapi itu berakhir dengan tangisan. Aku menangisimu sepanjang malam, aku menjadi gila karena aku merindukan tawamu. Aku selalu berteriak aku ingin melupakanmu, tetapi itu tidak bekerja sama sekali.
Ketika hari-hariku mulai berat, aku merindukan hangat suaramu di ujung telepon, memeluk erat keresahan dan lelahku. Semenjak kau memilih pergi, tidak satu hari pun ku jalani tanpa kau di benakku dan tanpa bayangmu di tiap malamku tidak bisa tidur. Alunan lagu yang sering kita putarkan mendengung di telingaku. Kau tau, bukan main sakitnya.
Aku terus merasa bahwa hidup tanpamu adalah sebuah mimpi buruk belaka. Aku ingin tertidur dan bangun melihat wajahmu di sebelahku. Aku ingin terus tersenyum, mempercayai bahwa kau akan kembali. Bahwa kita akan menapaki jalan hidup bersama. Tapi aku sendirian sekarang.
Kau melengkapiku dan ketika kau pergi, semua yang terbaik dariku ikut kau angkut. Hari-hari kian sepi dan berat tanpa mu bersama ku. Aku membangun lagi diri ku sendiri keping demi keping. Harap ku masih pada mu. Rindu ku tidak pernah salah alamat.
"Aku suka dengan orang lain."
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku, saat aku merindukanmu. Rindu yang sampai kapanpun tidak pernah berbalas. Rindu yang terkekang karena kamu memilihnya, aku tak berhak untuk menyampaikannya. Aku tak berhak untuk merusak kebahagiaanmu.
Hanya dua hal yang dapat kulakukan untuk selalu bersamamu—untuk selalu mendekapmu. Dengan aku menulis dan dengan doa di setiap ujung sujudku. Biarlah aku belajar mendewasa dan biarlah rindu itu tetap ada, karna di dalam ku masih selalu ada dirimu. Selalu.
—UWxSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar