Gue bukan orang yang selalu update tentang perkembangan film Indonesia. Hanya beberapa film Indonesia yang sanggup membuat gue tergerak untuk menontonnya dalam 5 tahun terakhir, dan salah satunya adalah film ini:
Berawal dari beberapa artis yang merespon dengan baik film ini dan isu yang ditawarkan membuat gue penasaran, sebagus apa sih filmnya? Dan sehabis UTS, gue langsung pergi ke bioskop dekat rumah and voila! Gue nonton sendirian. I mean, di satu studio itu gue doang yang nonton. Padahal, di luar bioskop itu rame loh. Tapi, karena gue nonton cuma sendirian, jadi gue lebih fokus pada filmnya.
![]() |
SUMPAH SIH FILMNYA OKE BANGET. O K E.
Isu yang diangkat di film ini sebenarnya umum tapi kebanyakan masih belum sadar akan isu ini, yaitu tentang Toxic Relationship dan Kekerasan Seksual.
Berawal dari menjalani hukuman bareng, membuat Lala dan Yudhis dekat dan akhirnya merekatkan hubungan dengan sebutan pacaran. Cinta pertama Lala adalah Yudhis, Yudhis ingin bersama Lala selamanya. Tipikal anak muda banget. Mereka ingin selamanya, sebebas-bebasnya, pencarian cinta pertama, "yang penting senang dulu aja!". Dengan diiringi lagu dari Dipha Barus - No One Can Stop Us, Lala dan Yudhis menjalani cinta mereka dengan senang, penuh dengan momen manis, tapi mereka belum tahu, kadang cinta bisa menjadi racun, cinta bisa membunuh mereka kapan aja.
Edwin yang dikenal dengan film-film arthousenya yang sering masuk festival film internasional, akhirnya mau juga buat film komersial. Dan Edwin berkolaborasi dengan Gina S. Noer, yang juga menulis skenario Hari Untuk Amanda dan Habibie & Ainun. Gaya penyutradaraan Edwin serta skenario dari Gina S. Noer yang mampu menghidupkan cerita cinta yang tidak biasa, penuh dengan jeratan. Walaupun menurut gue sedikit kecepetan di awal film, tapi itu termaafkan seiring konflik yang membesar antara Lala dan Yudhis. Also, pemilihan tone filmnya oke. Nonton film ini berasa nonton thriller. Ada sensasi disturbing yang bikin gue agak gak nyaman. Dan tentu gue gamau kebawa mimpi, gak nyenyak tidur gue nantinya.
Gue sangat suka chemistry antara Adipati Dolken dan Putri Marino. Adipati Dolken yang udah lama berada dalam industri film Indonesia kasih performa yang oke banget dibanding film-filmnya terdahulu. Dan gue salut sama Putri Marino yang bisa ngimbangin peformanya Adipati Dolken. Mereka berdua tampil secara sempurna berkat penyutradaraan dari Edwin dan skenario dari Gina S. Noer.
Gue sangat suka chemistry antara Adipati Dolken dan Putri Marino. Adipati Dolken yang udah lama berada dalam industri film Indonesia kasih performa yang oke banget dibanding film-filmnya terdahulu. Dan gue salut sama Putri Marino yang bisa ngimbangin peformanya Adipati Dolken. Mereka berdua tampil secara sempurna berkat penyutradaraan dari Edwin dan skenario dari Gina S. Noer.
Gue yakin, banyak orang yang pernah menjalani toxic relationship. Toxic relationship bukan hanya dialami oleh mereka yang berhubungan pacaran aja, hubungan keluarga dan hubungan pertemanan juga bisa terjadi toxic relationship tanpa kita sadari. Toxic relationship amat berkaitan dengan kekerasan seksual. Konsep kepemilikan dalam sebuah hubungan seringkali menjadi alasan untuk membombardir privasi seseorang. Creepy gak sih, lo pergi dan tau-tau pacar lo ngikutin? Menurut gue itu udah melanggar privasi seseorang. Dan ya kebanyakan gabisa bedain, mana sayang, mana posesif.
Menonton ini, gue jadi semakin aware tentang kekerasan seksual, apalagi gue sekarang belajar di bidang yang amat berkaitan dengan kekerasan. Kekerasan itu bisa dialami siapa aja, termasuk gue sendiri. Masyarakat sekarang juga semakin sadar, bahwa kekerasan seksual itu gak bisa didiamkan begitu aja. Banyak aktivis-aktivis yang bergerak untuk memutus tali kekerasan seksual di Indonesia. Salah satunya adalah akun Lentera Sintas Indonesia dan masih banyak lagi. Mendorong wakil rakyat di Ibu Kota untuk mengesahkan RUU tentang Penghapusan Kekerasan sebagai payung hukum untuk melindungi korban kekerasan seksual dan mendapatkan keadilan yang setimpal.
Okey gue punya infografis yang mengindikasikan bahwa pacar kalian melakukan kekerasan seksual:
"Cemburu itu kan tanda sayang!"Iya iya, gue tau kok, tapi tanda sayang itu gak harus mengontrol pasangan lo sendiri. Jangan mentang-mentang lo pacarnya, lo dengan seenaknya mengontrol dan ngikutin maunya lo gimana. Dan salah satu kontrol itu adalah melakukan kekerasan seksual. Dalam film ini diperlihatkan bahwa controlling menjadi bukti cinta seseorang kepada pasangannya. Menurut gue, toxic relationship itu berawal dari kontrol atas seseorang.
Menonton ini, gue jadi semakin aware tentang kekerasan seksual, apalagi gue sekarang belajar di bidang yang amat berkaitan dengan kekerasan. Kekerasan itu bisa dialami siapa aja, termasuk gue sendiri. Masyarakat sekarang juga semakin sadar, bahwa kekerasan seksual itu gak bisa didiamkan begitu aja. Banyak aktivis-aktivis yang bergerak untuk memutus tali kekerasan seksual di Indonesia. Salah satunya adalah akun Lentera Sintas Indonesia dan masih banyak lagi. Mendorong wakil rakyat di Ibu Kota untuk mengesahkan RUU tentang Penghapusan Kekerasan sebagai payung hukum untuk melindungi korban kekerasan seksual dan mendapatkan keadilan yang setimpal.
Okey gue punya infografis yang mengindikasikan bahwa pacar kalian melakukan kekerasan seksual:
![]() |
| Infografis oleh Stu Astuti |
Kalau kalian merasakan salah satu dari kesepuluh pertanda di atas, saran gue jangan diem aja. Kalau didiamkan, bisa jadi intensitas kekerasan semakin bertambah dan bisa aja nyawa jadi taruhan. So, perhatikan pacar kalian dari hal terkecil sekalipun. Ingatkan kalau pacar kalian mulai berlaku posesif, kadang orang posesif itu gak tau kalau mereka itu posesif. Jika kekerasan seksual sudah terjadi, kalian cerita ke orang-orang terdekat, misalnya sahabat-sahabat kalian atau orang tua, dan mulai cari bantuan hukum, ini penting. Juga untuk kalian punya teman yang menjadi korban kekerasan seksual, jangan diam aja hanya karena "Itu bukan urusan gue kok!" kalian bisa dipidana karena membiarkan tindakan kekerasan itu terjadi. Sekali lagi, kalian harus aware. Jangan menghakimi, bantu mereka agar mereka bisa keluar dari lingkaran setan kekerasan seksual. Kalau kalian gabisa bantu, setidaknya kalian harus jadi pendengar yang baik dan kasih support.
BTW, cara mempromosikan film ini cukup unik. di Instagram Palari Films, ada link yang ngetest seberapa tinggi posesif lo. Ini linknya Posesif - O - Meter dan hasil gue adalah 42%. Bagi gue lumayanlah, dibanding Adipati Dolken yang hasilnya sampai 68%. Yah, Adipati Dolken bilang dia cukup posesif dan karakter Yudhis di film ini dekat banget sama karakter aslinya dia.
Sebelum film ini diputar secara serentak di Tanah Air, 'Posesif' mendapat 10 nominasi Festival Film Indonesia 2017. Meskipun ada kontroversi berupa Surat Tanda Lulus Sensor yang dikeluarkan sehari setelah nominasi Festival Film Indonesia 2017 diumumkan dan belum tayang di bioskop seluruh Indonesia, produser 'Posesif' mengklarifikasi bahwa mereka sudah melakukan screening di bioskop independen di Jakarta dan Tangerang lalu sudah mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor jauh sebelum nominasi Festival Film Indonesia 2017 diumumkan.
![]() |
![]() |
| Infografis oleh Ryan |
Gue kaget Putri Marino yang notabene baru debut sebagai artis di film 'Posesif', mampu bersanding dengan senior-seniornya seperti Adinia Wirasti dan Dian Sastrowardoyo. Sungguh pencapaian yang luar biasa mengingat Putri Marino baru mengawali karir di dunia film. Dan di Sutradara terbaik, Edwin ketemu sama Joko Anwar. Seru nih. Joko Anwar pernah main bareng sama Ladya Cheryl di filmnya Edwin yang berjudul 'Babi Buta Yang Ingin Terbang'. Gue harap, film ini bisa bawa piala setidaknya satu deh gapapa. Berharap banyak sama film ini.
Terakhir, silakan mendengarkan lagu Sheila on 7 - Dan. Setelah nonton ini, Dan tidak pernah sama lagi bagi gue.
Kalian mesti tonton film ini guys, worth it kok! Berasa nonton film festival, padahal film komersial.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar